Malaysia, Aceh, dan Thailand
Perjalanan ini bermula dari keikutsertaan saya dalam konferensi internasional (International Conference on Desicion Modelling, 2012) untuk mempresentasikan hasil penelitian kecil-kecilan yang saya buat. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Universiti Utara Malaysia (UUM, Sintok, Kedah Darul Aman). Hari ketiga konferensi tersebut, saya dan 7 orang lainnya --sesama peserta konferensi-- mengikuti trip ke Hadyai, Thailand selama dua hari satu malam. Kami bertolak ke Hadyai pukul 15.00 waktu Malaysia dari EDC Hotel UUM dengan sebuah Van (penj: hampir sama dengan L300 di Aceh).
Perjalanan kami telah sampai di Bukit Kayu Hitam dan waktunya kami diperiksa oleh petugas Imigresen Malaysia, dan untuk kedua kalinya oleh petugas Imigrasi Thailand di Sadao. Sepanjang perjalanan ke Hadyai, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan antara Negeri kita tercinta Aceh, Negeri tempat saya menuntut ilmu Malaysia, dan Negeri yang saya kunjungi Thailand.
Selama di Malaysia, saya tidak pernah mendengar bunyi klakson kenderaan bermotor sebagaimana yang sering kita dengar di Aceh, suasana berkendaraan pun begitu teratur. Kendaraan tetap ikut lorong kiri kecuali memotong, begitu tulisan yang dapat kita lihat di sepanjang jalan di Malaysia. Dan ada satu slogan mereka yang sangat saya sukai : “Adakah anda melihat kenderaan di belakang anda menyalakan lampu isyarat? Adakah anda melihat kenderaan di sebelah kiri anda lebih laju daripada anda? Berikan kesempatan kepada mereka yang ingin bergegas. Berkendaralah di lorong kiri. Berperilakulah dengan baik ketika berkendara. Anda dapat mengubahnya!!”. Slogan itu saya dengar dari salah satu radio Malaysia. Tetapi ketika sampai di Thailand, suasana berkendara kembali seperti apa yang kita lihat sehari-hari di Aceh. Tidak perlu digambarkan lebih lanjut, karena saya yakin semuanya sudah mengetahui bagaimana cara berkendara masyarakat kita.
Selain cara berkendara, jumlah dan jenis kendaraan yang ada di Thailand pun hampir sama dengan Aceh. Pertama, Thailand mempunyai jumlah sepeda motor yang jauh lebih banyak di bandingkan dengan mobil, sedangkan Malaysia kebalikannya. Malaysia mempunyai lebih banyak mobil (kenderaan roda empat) daripada sepeda motor (kenderaan roda dua). Kedua, Thailand mempunyai sepeda motor dengan nama yang sama dengan nama kenderaan yang ada di Aceh (salah satu kendaraan keluaran baru yang dikeluarkan oleh perusahaan sepeda motor terkenal), sedangkan Malaysia tidak mempunyai nama yang sama seperti itu. Ketiga, Malaysia masih mempunyai sepeda motor jadul namun masih keluaran baru, sedangkan Thailand sama seperti Aceh, kenderaan roda dua selalu up-to-date dengan merek dan model terbaru. Keempat, Thailand mempunyai rel kereta api yang menyebrangi jalan raya, sama seperti yang ada di Lhokseumawe, Aceh atau Indonesia. Sedangkan di Malaysia, tidak kita jumpai rel kereta api yang melintasi jalan raya secara bergantian. Jika ada rel kereta api, maka jalan raya akan berada atau melintas di atasnya pada jalur yang berbeda. Jadi, tidak akan terjadi mobil, truk, atau semacamnya bertabrakan dengan kereta api seperti yang sering terjadi di Jawa.
Dan yang paling unik adalah Thailand mempunyai kenderaan umum yang mirip dengan kenderaan umum dalam kota di Aceh, yaitu Labi-Labi. Nyaris sama!! Namun, kenderaan ini sedikit lebih kecil, mungkin karena orang Thailand memang lebih kecil dari kita orang Aceh. Sepenglihatan saya, kenderaan ini ada dua jenis, yang satu seperti yang saya tumpangi, dan yang kedua sedikit lebih besar ukurannya karena pada dasarnya ia adalah mobil pick-up yang diberikan atap. Kenderaan ini disebut “Tut-Tut”. Nama yang lucu menurut saya. Teringat akan lagu masa kecil, tut tut tut kereta api.
Fajriani, Mahasiswa Pascasarjana di Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Tanjung Malim, Perak Darul Ridzuan-Malaysia.